Tahun 2023, adalah tahun yang sulit dan penuh tantangan bagi bangsa dunia, terlebih Indonesia yang sedang menjalani tahapan pemilu 2024.
Direktur pelaksana Internasional Moneter Fund (IMF) kristalina Georgieva, sempat mengatakan ekonomi Dunia pada 2023 akan gelap gulita, karena menghadapi resiko resesi dan ketidak stabilan pasar keuangan, dan IMF juga menegaskan bahwa prospek ekonomi global gelap gulita, mengingat guncangan yang disebabkan oleh pandemi covid-19, perang antara rusia dan ukraina, hingga bencana iklim di semua benua.
Lantas, Apa Dampak Buruk Bagi Indonesia
?
2023 Resesi Dunia – Mari
kita lihat, resesi ekonomi adalah momok bagi semua negara di Dunia, dan
fenomena ini mempengaruhi sektor pajak, investasi, bahkan kualitas hidup
masyarakat. Perekonomian global pun belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi
covid-19.
Presiden Indonesia, Joko Widodo
juga mewanti-wanti adanya ancaman resesi, ia juga menegaskan kembali mengenai
resesi global tahun ini sulit, dan tahun depan sekali lagi akan gelap gulita. Kita
tidak tahu badai besarnya seperti apa, sekuat apa, dan tidak bisa di kalkulasi.
Nah, kalau misalnya kita melihat dalam situasi resesi, biasanya perusahaan akan melakukan efisiensi, dan salah satunya melalui pengurangan beban gaji karyawan. Alhasil, pengangguran semakin meningkat akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan seperti press graduate juga akan sulit mencari pekerjaan, karena perusahaan-perusahaan memangkas karyawan.
Tonton Video Penjelasannya : Sejarah Terukir, Resesi Ekonomi Dunia Gelap Gulita di Tahun 2023
Apa Penyebab Resensi Ekonomi Dunia ?
Kenaikan laju inflasi dunia
meningkat. Bukan hanya di Indonesia saja, kita bisa melihat kalau misalnya di
negara maju seperti Inggris, dan Amerika kenaikan laju inflasi sangat sangat
tinggi, sudah mencapai rekor tertinggi. Untuk menekan laju inflasi, sebenarnya
banyak sekali Bank Sentral di semua negara akan menaikkan suku bunga acuan nya,
untuk menekan laju inflasinya.
Dampak perang Rusia dan Ukraina adalah salah satu alasan utama resesi ekonomi Dunia 2023. Pasalnya, kedua negara ini merupakan produsen utama komoditas dan juga energi dunia. Akibat perang ini, harga komoditas utama pangan dan juga energi melonjak tajam dengan cepat, dan harga komoditas akan mempengaruhi harga bahan baku ditingkat industri, dan saat harga bahan baku makin mahal, harga jual konsumen kita semua akan ikut naik.
Harga Komoditas Dunia Yang Meroket.
-
Gas Alam sudah naik 125,8%
-
Batu Bara naik 166,1%
-
Minyak Brent naik 45,7%
-
Minyak Sawit Mentah naik 20,9%
-
Gandum Serta beras naik 55,6%
-
Jagung naik 31,5%
-
Kedelai naik 28,1%
-
dan Biji-Bijian lainnya naik 15,5%
Kenaikan harga komunitas ini sebenarnya sangat mendorong inflasi. Indonesia sebagai negara komoditas, sangat penting untuk menyoroti harga-harga dengan komoditas.
Bank Dunia juga memprediksi:
seandainya resesi memang terjadi, dampaknya akan lebih dirasakan oleh
negara-negara maju ketimbang negara-negara berkembang,
Mentri keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani mengatakan terkait dengan resesi ekonomi dunia: “tantangan ekonomi bergeser dan juga semakin rumit, dahulu didominasi karena pandemik, dan sekarang adalah kenaikan harga. Pengetatan moneter negara maju yang menyebabkan suku bunga naik, dan perlambatan ekonomi. ini resiko yang juga harus kita waspadai”.
Bagaimana Solusinya ?
Beberapa catatan dari Bank Dunia:
mereka sebenarnya mengeluarkan beberapa saran untuk pemerintah Republik Indonesia
untuk menjaga pemulihan ekonomi tetap tumbuh, dan daya beli masyarakat terjaga,
serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dijaga tetap sehat dan kuat
untuk menghadapi tantangan resesi global.
Komentar
Posting Komentar